About ISIP Indonesia

Pendirian ISIP (International Society for Islamic Philosophy) – Indonesia, South East Asia, Australia & New Zealand Branch

Cuplikan dari paper seminar  “Urgency of Islamic Philosophy for Modern Society Today” (di UIN Ciputat, 21 Desember 2010)

Husain Heriyanto

 

Dimulai dari pertemuan 12 sarjana filsafat dari negara-negara Islam yang berkumpul di Washington atas undangan Prof. George McLean sebagai direktur Center for Research in Values and Philosophy (CRVP), Catholic University of America, selama satu bulan seminar riset tentang Faith and Reason: in Islamic philosophy  (1-31 Maret 2008), berkembang gagasan untuk membentuk sebuah komunitas yang berkomitmen untuk mengembangkan kajian filsafat Islam di dunia internasional; dan muncullah nama the International Society for Islamic Philosophy (ISIP).  Komunitas ini dipublikasikan pertama kali pada Kongres Filsafat di Seoul, Agustus 2008.

 Kegiatan pertama yang dilangsungkan atas nama ISIP (bekerjasama dengan CRVP) adalah serangkaian seminar “A Set of Conferences across Java: Islamic Thought and Indonesian Culture” pada 5 – 16 Januari 2009 yang diorganisir oleh ICAS Jakarta melalui kerjasama dengan delapan perguruan tinggi nasional (UI Depok, UIN Jakarta, Universitas Atmajaya, UIN Bandung, UIN Yogyakarta, UGM Yogyakarta, IAIN Surabaya, Universitas Muhammadiyah Malang) dan penerbit Mizan sebagai tempat-tempat penyelenggara seminar. 

Kegiatan kedua ISIP adalah Konperensi Internasional tentang Islamic Philosophy and the Challenges of the Present-Day World di Teheran dan Hamadan (10 – 13 November 2009).  Dan status ISIP secara resmi disahkan oleh federasi internasional untuk komunitas filsafat (FISP) dalam momen the World Philosophy Day 2009 (15 November 2009) di Moskow, sebuah program tahunan UNESCO sejak tahun 2005.

Dalam statutanya, tertulis… “.. ‘Islamic philosophy’ embraces the whole spectrum of logical, epistemologocal, scientific, ethical, social, and aesthetical thought in the context of Islamic civilization. ‘Islamic philosophy’ is not to be limited to falsafa alone, but embraces all dimensions of Islamic hikmah (wisdom). What makes Islamic philosophy ‘Islamic’ is not merely the intellectual aspect but also the spiritual aspect of the discovery of the self, and ultimately of God.  “

Tentang keanggotaan, ISIP menerima siapa saja untuk menjadi anggotanya. Dalam statutanya tertulis, “ ISIP does not place any conditions on the faith or creed of its members. Membership is open to all individuals engaged in research into Islamic philosophy and allied disciplines promoting teh teaching and study of Islamic philosophy”.

Sikap keterbukaan keanggotaan ISIP tersebut sesuai dengan isi pesan tertulis Ayatollah Jawad Amoli dalam Kongres World Philosophy Day (WPD) di Teheran 21- 24 November 2010 lalu. Beliau menulis, “Using the term ‘Islamic philosophy’, we intend to apply their comprehensiveness sense of meaning, that is divine and religious, which stands against the atheistic and non-religous and not as up against Christianity and the like.  We should not take philosophy to be tha same as religous jurisprudence, whose most important part is the tradition and religious law which has been distinctly assigned foe each prophet separately. Thus, it will not be correct to ask of the differences between Islamic philosophy and Christian philosophy.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s